Franklin sudah bisa menyelam ke dalam air dan bermain bisbol. Ia juga sudah bisa memanjat dan berayun-ayun di palang titian. Bahkan, ia sudah bisa bermain ayunan sampai melambung tinggi. Tetapi Franklin masih punya masalah, yaitu ia tidak bisa naik sepeda tanpa roda penolong.
Franklin sudah bisa meluncur di tepi sungai. Ia sudah bisa menghitung angka maju dan mundur. Bahkan, ia sudah bisa menarik ritsleting dan mengancingkan kancing bajunya sendiri. Tetapi, Franklin takut dengan ruang yang gelap dan kecil. Hal itu menjadi masalah baginya karena ...
Franklin sudah bisa berhitung dan mengikat tali sepatunya. Ia juga sudah bisa menarik risleting dan mengancingkan kancing bajunya sendiri. Namun, Franklin takut masuk sekolah. Hal itu menjadi masalah baginya karena Franklin baru pertama kali ini masuk sekolah.
Franklin sudah bisa menarik ritsleting dan mengancingkan kancing bajunya sendiri. Ia sudah bisa berhitung dan mengikat tali sepatunya. Ia juga punya banyak teman, dan teman akrabnya adalah Bear, si beruang. Mereka sering bermain kelereng, bermain lompat-lompatan, dan bermain bola. Namun, pada suatu hari, sesuatu yang buruk terjadi. Franklin dan Bear bertengkar.
Franklin sudah bisa berhitung dan mengikat tali sepatunya sendiri. Ia mempunyai banyak teman dan salah satu teman akrabnya adalah Bear, si beruang. Umur Franklin dan Bear sebaya. Mereka tinggal berdekatan. Mereka juga suka dengan permainan yang sama. Tetapi, pada suatu hari, Franklin menemukan perbedaan antara dirinya dan Bear.
Franklin suka bermain di luar rumah ketika musim dingin. Ia suka sekali meluncur di salju. Ia juga suka menangkap gumpalan salju dengan mulutnya dan membuat boneka salju. Tetapi hari ini benar-benar berbeda. Franklin mengalami hari yang benar-benar menjengkelkan.
Pada hari Bumi, Franklin dan teman-temannya mendapat pohon untuk ditanam di halaman rumah masing-masing. Namun, Franklin kecewa ketika mendapat jatah pohon yang diberikan Pak Heron, si bangau. Pohon itu hanya kecil, masih berupa anak pohon. Dengan malas ia pulang sambil membawa anak pohon itu di gerobaknya. Ketika hendak menanam anak pohonnya, anak pohon itu telah hilang. Franklin segera menyus…
Franklin sudah bisa meluncur di tepi sungai. Ia sudah bisa berhitung, menarik ritsleting, dan mengancingkan kancing bajunya sendiri. Franklin juga sudah bisa mengikat tali sepatunya. Meskipun demikian, Franklin belum bisa menelan tujuh puluh enam lalat dalam waktu sekejap. Tetapi, Franklin mengatakan kepada teman-temannya bahwa ia bisa melakukannya. Dengan kata lain, Franklin telah berbohong.
Franklin sudah bisa menghitung angka maju dan mundur. Ia bisa mengingat nomor telepon rumahnya, alamatnya, dan enam nama bentu bidang. Tetapi, kadang-kadang Franklin juga bisa lupa. Maka ia cemas ketika Pak Owl, gurunya, menunjuknya untuk bermain drama di sekolah. Bagaimana jika ia lupa dialognya?
Kadang-kadang Franklin sakit perut atau demam. Kadang-kadang juga luka atau memar. Secara rutin Franklin pergi ke dokter untuk cek kesehatan. Dulu dokter juga pernah datang ke rumah Franklin untuk memeriksanya, tetapi sampai saat ini Franklin belum pernah pergi ke rumah sakit.