"Huk ... huk .... huk ...," sayup-sayup terdengar suara anjing. Sebuah kereta besi bergerak di padang salju. Satu ..... dua ..... tiga .... Ada sembilan ekor anjing menarik kereta itu. Eh ..... tunggu dulu, di belakang kereta masih ada satu lagi.
Hari ini udara mulai terasa dingin, saatnya musim dingin tiba. Siang hari yak lagi sepanjang biasanya. Matahari lebih cepat bersembunyi di langit barat. Dengan keadaan ini, Miminlah yang paling sebal. Bgi anak berang-berang yang bandel ini, waktu sehari penuh tak cukup untuk bermain-main. Apalagi sekarang ini siang hari lebih pendek dari kemarin.
Di ujung cakralawa, tempat matahari terbenam, tersebutlah sebuah pandang yang subur dan indah di tepi danau. Ribuan ekor katak menjadi penguhuninya. Makanan dan air melimpah ruah bagi mereka. Nyam, nyam, nyam! Menyanyi dan bersukacita adalah pekerjaan mereka sehari-hari. Tralala, tralala,tralala.
Berjuta-juta tahunn yang lalu, sebelum ada manusia di bumi ini, hidup sejenis binatang besar yang disebut dinosaurus. Macam-macam bentuk dinosaurus. Ada yang berleher panjang, ada yang bergigi tajam, ada yang bersirip di punggungnya, ada yang bertanduk, dan lain-lain. Dinosaurus melahirkan anaknya dengan cara bertelur.
Di sebuah pinggiran kota, hiduplah Mama Tikus dan kedelapan anaknya. Mama Tikus sangat menyayangi anak-anaknya. Demikian juga anak-anak tikus sangat mengasihi Mama Tikus. Akan tetapi, ada suatu anak tikus yang agak bandel. Cicit namanya. Pada suatu hari ia melamun, "Saya bosan tinggal di desa. Saya ingin pergi ke kota." Lalu Cicit mengemasi pakaiannya. Diambilnya kendi tabungan dan... Praan…
"Seekor kura-kura berjalan lambat, jelek sekali. Ha...ha...ha...ha...ha... Setiap hari menggendong rumah. Ha...ha...ha...ha...ha..." Di tepi sungai lima ekor anak rakun bernyanyi-nyanyi sambil bergandengan tangan. Mereka mengejek seekor kura-kura yang sedang berjemur di atas batu. Mendengar ejekan itu kura-kura diam saja. Ia tidak marah.