Hari pertama liburan, Gilang mengajak Adi mendirikan tenda. Mereka berdua memilih lokasi di kebun belakang rumah Gilang. Kebun itu cukup luas dan aman karena terdapat pagar di sekelilingnya. Mereka membangun tenda di dekat pepohonan rindang di bawah pohon mangga. Gilang dan Adi terlihat sibuk membangun tenda. Menjelang siang hari tenda telah selesai dibangun. Gilang dan Adi merasa puas dengan …
Pagi ini langit mendung. Bima dan Ratih berjalan-jalan di pinggir sungai. Mereka membawa beberapa kantong sampah dan membuangnya ke sungai. Banyak orang membuang sampah ke sungai. Sungai penuh sampah. Mereka kembali ke rumah. Bima mengambil gitar dan memainkannya. Mereka bernyanyi bersama, lalu menekmati pisang goreng. Di luar hujan semakin deras.
Ayah membacakan cerita sebelum tidur. "..... dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya," kata Ayah mengakhiri cerita sambil menutup buku. Cahaya masih duduk dan bersandar di tempat tidur. Dia mengharapkan Ayah membaca cerita lagi. Gilang mengharapkan Ayah membaca cerita lagi. Gilang tampak mengantuk. Ia menguap berkali-kali. "Ayah, tolong baca cerita yang lain lagi," pinta Cahaya. "Tidak …
Pada saat kenaikan kelas, Cahaya dan Gilang mendapatkan hadian sepeda dari orang tua mereka. Cahaya mendapatkan sepeda berwarna merah. Gilang mendapatkan sepeda berwarna biru. Mereka mendapatkan sepeda sesuai dengan warna yang mereka pilih. Mereka sangat senang dengan hadiah itu. "Ini helm kalian," kata Ayah sambil menyerahkan helm kepada mereka berdua. "Untuk apa hel ini, Ayah?" tanya Gilang.…
Saat istirahat tiba, Gilang dan Tino sedang menikmati bekal mereka di kantin sekolah. "Gilang, bekal apa yang kamu bawa hari ini?" tanya Tino. "Aku membawa roti dan susu. Kamu?" tanya Gilang. "Aku membawa kacang. Kamu mau?" tanya Tino. "Mau. Terima kasih, ya," jawab Gilang. Gilang dan Tino asyik mengunyah kacang.
Matahari bersinar cerah, terlihat Ratih dan Bima tertawa gembira. Mereka akan berangkat ke rumah kakek dan nenek di desa. Rumah kakek dan nenek terletak di sebuah desa yang asri, dengan udara yang sejuk dan keindahan alam desa yang memesona. Itulan alasan mereka selalu ingin pergi kesana. "Ayo, kita berangkat" ajak Ayah dan Ibu. Ratih dan Bima segera naik ke mobil dan siap berangkat.
Ratih dan Bima sangat senang. Mereka menari-nari gembira. Keduanya mendapatkan izin orang tua untuk piknik di tepi danau dekat rumah. Hari ini adalah hari minggu. Mereka bergegas mempersiapkan semuanya. "Ayo, Bima! Kita harus menyiapkan keperluan piknik," kata Ratih. "Aku ingin memancing di danau. Ayah membelikkan pancing baru untukku," kata Bima.
Siang hari sepulang sekolah, Gilang berdiri di depan cermin. "Aaaa!" Gilang membuka mulutnya lebar-lebar sambil memegangi salah satu giginya. "Aduh! Gigiku goyang nih," kata Gilang pada dirinya sendiri. "Aku malu kalau gigiku jadi ompong. Semua teman akan mengejekku." Gilang terus memperhatikan giginya di cermin dengan perasaan cemas.
Bima dan Ayah bermain bola di kebun belakang rumah meeka. "Bima, sekarang Ayah akan mencetak gol!" teriak Ayah dengan keras. Ayah sangat bersemangat menendang bola. Bola melambung tinggi, tinggi, tinggi sekali.
Senin selasa rabu kamis jumat sabtu minggu Liburan telah tiba. Bima sangat senang karena bisa berlibur di rumah kakek. Hari minggu, Bima diantar ayah ke rumah kakek.